Selasa, 03 Maret 2015

Bupati Brebes Resmikan Rumah Kompos dan Sosialisasi BRILink


Kebijakan Revolusi Hijau  (Green Revoution) yang dicanangkan pemerintah tahun 60-an memang memberikan  hasil yg cukup fantastis pada peningkatan produksi pertanian pangan di Indonesia. Atas keberhasilan swasembada th 84 pemerintah mendapat  penghargaan FAO - PBB.  Namun demikian  keberhasilan revolusi hijau yg dianggap luar biasa tsb menyisakan banyak masalah dan perdebatan atas strategi pemerintah dalam menggenjot produksi pertanian, khususnya pangan.
Salah satu cara  yg dianggap kurang bijak adl penggunaan input pertanian kimia scr berlebihan baik untuk pupuk maupun pestisida pengendali hama penyakit serta penggunaan  benih unggul hasil  rekayasa genetika. Kini setelah sekian lama program revolusi hijau berjalan dampak negatifnya mulai terlihat dan banyak dirasakan petani, khususnya petani kecil.

Secara ekonomi, pada sisi lain revolusi hijau ini telah menyebabkan biaya usaha tani semakin mahal krn para petani  telah tergantung kpd input kimia yang kian hari kian tidak terjangkau harganya. Sementara dampak linkungan, penggunaan bahan2 kimia pertanian telah menyebabkan terjadinya kerusakan ekologi pertanian yg cukup serius.

Teknologi, pd satu sisi memang telah memberikan keberhasilan pada prod. pertanian yg luar biasa  pd isu revolusi hijau. Namun demikian, teknologi pertanian yg hanya mengedepankan target hasil tanpa memprhatikan dapak jangka panjang juga bukan pilihanyg tepat. Petani kecil sbg pelaku utama dlm sektor pertanian hrs menjadi acuan dlm menetapkan pilihan teknologi yg akan dikenalkan dan diterapkan ke mereka selain jg mempertimbangkan aspek ekologis.
Membangun teknologi pertanian sehat (ramah lingkungan) berarti membangun harapan masa depan baru bagi para petani. Sudah saatnya kita memperkenalkan dan meng-apdosikan teknologi pertanian yang sederhana, tepat guna, berwawasan  ekologi dan mudah di jangkau oleh para petani kita, baik dari sisi harga maupun kemudahan dalam  aplikasinya... Ya.. Teknologi untuk petani kecil.


Pada kesempatan tersebut turut diperkenalkan kepada masyarakat salah satu produk  BRI yaitu BRILink. Layanan keuangan yg memadai bagi masyarakat adalah salah satu kunci untuk mencapai kesejahteraan. BRI berinovasi untuk menjangkau dan melayani masy.  YDemi mewujudkan  Gerakan Nasional Non Tunai tentang implementasi layanan keuangan tanpa kantor dalam rangka keuangan inklusif. Dengan BRILink (ATM Mini)  diharapkan mampu menembus hambatan jarak, biaya, terbatasnya pengetahuan keuangan, serta foralitas layanan perbankan konvensional. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar